Senin, 28 Mei 2012

R – A – H – A – S – I – A
Oleh : Saepullah

Lily. Raut mukanya lonjong, paras ayu, hidung sedikit melebar ke samping dengan batang hidungnya maju ke depan, hingga tingginya bak model anggun nan berjalan di atas catwalk. Sempurna. Satu kata lagi : SEMPURNA.

Dibalik kesempurnaannya Lily adalah wanita bijak dengan penuh ketertutupan. Betapa tidak? Rambutnya tertutup rapi dengan kerudung yang menutupinya. Ditambah lagi dengan pakaiannya yang selalu tertutup dengan gaun rok yang digemarinya. Tak pernah kulihat dirinya memakai gaun jeans atau pakaian celana sekalipun. Sungguh tertutup. Tapi, kenapa aku bisa menyukai Lily?

Hari-hari selama berada di dalam ruangan kelas bersama Lily adalah hari-hari kebahagiaan. Saat dia maju ke depan kelas. Saat dia mengajariku tentang pelajaran matematika, fisika, kimia, ataupun sejarah sekalipun dirinya sangat piawai dalam merenggut keindahan hatiku bersamanya. Aku ingin memilikinya. Aku ingin menjadi pria idamannya. Pun aku ingin mengapai surga bersama dirinya dalam ikatan Mitsaqan ghaliza (ikatan kuat pernikahan) yang sah.

Semilir angin pendingin ruangan kamar menyapaku dalam mengenang wajah Lily. Aku kembali membuka buku matematikaku. Aku harus mempersiapkan diri untuk ujian bab peluang esok hari. Berapa peluang keberhasilanku untuk mendapatkan dirinya? Akupun harus berusaha untuk menjadi pria sejati untuk menjemput bidadari indahku Lily.

Hari berlalu. Aku ingin menembak dirinya untuk menjadi kekasih hatiku. Boneka hati telah kupersiapkan. Kuperhatikan dirinya yang berada pada kursi baris ke dua dari kursi belakang kelas, tempat dudukku. Lily sedang asyik memperhatikan pak Sae, guru matematika. Tatapan matanya serius dalam mengikuti pelajaran matematika. Yang kutahu dirinya adalah penyuka pelajaran matematika. Berlariannya waktu meninggalkan matematika hingga saatnya untuk pulang sekolah. Secepat angin Lily maju ke depan. Bayanganku memikirkan apa yang akan diperbuat Lily? Aku hanya diam menatap tindakannya dan dirinya memulai untuk mengutarakan isi hatinya.

 ”Assalamu’alaykum..” katanya menyapa teman seisi kelas.

”Wa’alaykumussalaam.” Jawabku dan teman yang lainnya.

”Lily meminta waktu sebentar teman-teman bolehkan?” katanya kemudian.

”Ya udah diijinkan kok Ly.” Aku mewakili teman-teman mengiyakan permintaannya. Teman-teman yang lain pun bersorak, ”Wuu..”

 ”Hari ini adalah hari terakhir Lily bertemu teman semua di kelas ini. Lily akan pindah sekolah ke Chicago. Lily berharap bisa ketemu kembali bersama teman-teman pada kesempatan lain. Senang rasanya bisa menjadi teman dalam satu kelas ini. Sampai jumpa lagi ya teman-teman..” Lily mengucapkan kalimat terakhir kepindahannya dari sekolah.

Aku penasaran akan alasan kepindahannya ke Chicago. Aku mengantar langkah Lily menuju rumahnya. Aku pun menanyakan kepada Lily perihal kepindahannya tersebut. Lily hanya menjawab, ”R-A-H-A-S-I-A.” Semakin penasaran diriku dibuatnya. ”Ya sudahlah Ly, jika memang itu sudah takdirmu untuk pindah sekolah. Aku hanya bisa memberikan sebuah kenangan ini kepadamu. Terima ya!” Kataku kepada Lily dengan memberikan hadiah yang telah kupersiapkan khusus untuk dirinya. ”Terima kasih ya Ndi!” jawabnya kemudian. Peristiwa itu memberikan celah selama bertahun-tahun setelahnya. Aku masih menyimpan sebuah harap akan dirinya menjadi pendamping hidupku kelak.

*****

”Baiklah, aku akan menerima wanita tersebut menjadi pendampingku.” kataku di hadapan seorang guru mengajiku. Aku akan berusaha melupakan kenangan terindah menatap keindahan akhlak dan fisik yang dimiliki oleh Lily, teman lamaku.

Aku tahu keputusanku untuk menikahi Lia semata-mata karena aku ingin mencari pendamping hidup yang berpedoman pada nilai keislaman yang tinggi. Tak lebih. Aku mengetahui segala tentang Lia hanya dari seorang guru mengajiku yang alim. Bahkan dari fotonya tak pernah kulihat. Aku berharap kesempurnaan itu memang benar ada pada Lia. Sebagaimana kenangan terindahku terhadap Lily.

Berjalannya waktu hingga terjadinya akad nikah dengan khidmat dan sakral. Tak ada penampakan wajah dari Lia sama sekali. Memang aku hanya menginginkan melihatnya dan menyentuhnya ketika Lia telah menjadi milikku. Dan kinilah saatnya aku untuk memasuki ruangan kamar pengantin yang menawan. Hatiku berdegup kencang. Bayangan wajah Lily masih saja merasuki pikiran dan perasaanku kepadanya. ”Tuhan, tolonglah aku! Aku sudah bertekad untuk melupakan Lily. Biarkan hatiku menyatu pada wanita yang telah menjadi istriku kini.” Lirihku dalam hati.

Kumasuki kamar dengan mengucap salam. Lia menjawab salamku. Lia menoleh ke arahku. Seketika aku terhenti. Aku terdiam seperti patung. Lia begitu sempurna. Sungguh mirip seperti Lily. Aku mendekat kepadanya dan berkata ”Ini benar Lia istriku?” ”Bukan. Coba tebak siapa? R-A-H-A-S-I-A.” Jawabnya, diiringi dengan memberikan sebuah foto kenangan SMA dan sebuah boneka hati, memberikan kesejukan kepadaku. Aku sujud syukur atas nikmat dari Tuhan.

 ================

2 komentar:

Rumah Gadang mengatakan...

coment y : namanya bisa tukaran ya? keseluruhan endingnya bisa ditebak. mungkin sedikit tambahan konflik biar ceritanya lbh greget. xmple tokoh Ndi beberapa th kemuadian ketemu dgn Lily tpi dia udah g berjilbab krn lama di cikago. namun si Ndi akhirnya bisa membuat lily sadar dgn dirinya, kembali taubat n menikah deh. (gak ada guru2 agamaan, Lq an n els) ini usulan sih . kan masukan ^_^

Saepullah mengatakan...

ok.. makasih...