Jumat, 10 Agustus 2012

INSTRUKTUR


INSTRUKTUR
Oleh : Saepullah

            Ramadhan adalah bulan yang terindah untuk semua insan manusia. Aku sendiri merasakan demikian. Ramadhan selalu kujalani dengan penuh suka cita dan bahagia. Meskipun demikian, namun ada rasa jemu yang selalu mengintai diriku sejak kecil. Fisikku terlalu lemah di saat puasa jika membeli keperluan lebaran baik pakaian lebaran, sampai ke bahan-bahan untuk membuat kue lebaran. Alhasil aku pasti mengalami pusing tujuh keliling jika melakukannya. Hal ini selalu saja terjadi. Namun aku menyiasati hal ini dengan membiarkan orangtuaku saja yang berbelanja jika dalam kondisi puasa. Karena jika aku harus ikut maka alhasil aku pasti mengulang kejadian yang sama yaitu kepalaku pusing dan akhirnya aku akan pingsan.
            Ramadhan adalah bulan keberkahan. Aku harus mendapatkan keberkahannya dengan memberikan energi positif kepada semua. Sebuah tawaran dari teman-teman di kampus untuk menjadi instruktur pesantren saat Ramadhan pun banyak mendatangi diriku. Aku bingung untuk mengatakan “ya” kepada teman-temanku. Hal ini karena sebuah fisikku yang lemah tadi. Bujukan dan rayuan dari teman-teman untuk menjadi instruktur pesantren terus menggodaku untuk mengambil bagian. Namun tetap saja aku tidak sanggup karena memikirkan fisikku yang lemah.
            Aku hanya menjadi seseorang yang tak berguna jika harus menghadapi Ramadhan ini hanya di rumah saja tanpa aktivitas menularkan kebaikan pada orang lain. Akhirnya kucoba untuk memenuhi tawaran pahala dari teman-temanku dengan menjadi pembicara pada sebuah pesantren Ramadhan. Aku hanya bisa menjadi pembicara saja belum menjadi instruktur seperti teman-temanku yang lain.
            Awal mendapat tawaran menjadi pembicara sungguh berat. Tubuhku merasakan keanehan luar biasa untuk memenuhinya. Namun kucoba langkahkan kakiku dengan “bismillah”. Kukuatkan tekadku untuk berbagi kebaikan pada semua. Aku pergi untuk mengisi pesantren ramadhan tersebut.
            Nuansa baru terjadi ketika kulihat wajah-wajah saudaraku peserta pesantren ramadhan yang masih duduk dibangku sekolah dasar dengan penuh keceriaan untuk menjadi seorang yang baik hati. Aku pun mengikuti kata hatiku untuk semangat dalam menularkan kebaikan kepada semua. Akhirnya menjadi pembicara pun dengan penuh semangat kujalani. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga harus berpisah pada saudara-saudaraku yang menjadi peserta pesantren ramadhan tersebut. Ternyata sebuah semangat yang membara mengalahkan fisikku yang lemah dalam berbuat kebaikan. Aku berhasil menjadi seorang pembicara dengan landasan semangat berbagi dan menularkan kebaikan. Aku pun bertekad untuk bisa menjadi instruktur pada ramadhan berikutnya.
            Baru saja memikirkan untuk menjadi seorang instruktur, tiba-tiba saja temanku mengajakku untuk menemaninya menjadi instruktur. Tak kusia-siakan kesempatan ini. Aku menjadi instruktur. Pengalaman yang luar biasa untuk menjadi instruktur.
            Menjadi instruktur pesantren ramadhan pun kujalani. Aku diberikan sebuah kesempatan yang lain yaitu untuk menjadi seorang instruktur saat olahraga pagi di bulan ramadhan tersebut. Aku bingung apakah aku bisa untuk menjadi instruktur senam pada ramadhan. Namun aku tetap menjalaninya meskipun fisikku ini lemah. Aku bertekad aku pasti bisa jika kuusahakan dengan itikad baik semata-mata karena Allah. Akhirnya aku mengiyakan untuk menjadi instruktur senam. Sebuah kata yang menyanggupiku untuk melakukannya adalah “bismillah”, semoga aku bisa untuk melakukannya.
            Tanpa terasa gerakan demi gerakan senam aerobik yang sering kulakukan saat diluar ramadhan pun bisa kulakukan. Akupun bisa dengan semangat luar biasa memberikan intruksi kepada peserta senam. Aku mengatakan kepada peserta bahwa niatkan senam ini juga karena Allah insya Allah puasa tidak akan lelah. Melihat aku yang semangat peserta pun antusias mengikutinya. Ternyata aku pun tidak merasakan akan pingsan seperti dahulu kala. Sebuah niat yang baik semata-mata kulakukan karena Allah berimbas menjadi hal positif. Aku pun semakin luar biasa menjalani hari-hari di bulan ramadhan tersebut. Sungguh luar biasa keagungan Allah jika kita berniat melakukannya karena Allah saja. Sungguh agenda luar biasa yang kujalani pada ramadhan menjadi manusia yang telah berubah dari lemahnya kayu menjadi baja yang super kuat. Subhanallah..










2 komentar:

Nunu El-Fasa mengatakan...

sukses pak..fotonya kayak caleg :d hehehhe

Saepullah mengatakan...

alhamdulillah tulisan ini berhasil meraih juara hiburan dari pojokpulsa.co.id